27.10.10

Ternyata Aku Cemburu

aku terdiam melihatnya begitu sumringah,
senyumnya menambah kecut hatiku,
keinginanku mendekati semakin menjadi
saat kekosongan makin menganga dalam rasaku.
ya, rasa yang sebelumnya begitu dekat,
bahkan sangat dekat
tapi, kesombongan sepertinya telah meraja
mengikis rasa kangen dan cintaku
dan rasa takut akan tercerabutnya kasih padaku
hampa, ya hanya hampa
aku merasa kehilangan sesuatu saat bersamanya
padahal aku dan dia sama
adakah yang berbeda antara aku dan dia
cemburu,
aku cemburu padanya
dia yang lebih tenang
dia yang lebih cerdas
dia yang lebih sabar dalam meminta
dia yang selalu sabar menerima
dia yang lebih dan lebih..
aku sangat iri padanya
ah, ternyata aku cemburu padanya
meski demikian
aku yakin Engkau Maha Pengampun dan Penyayang
mohon ampun segala dosaku hingga yang terlintas dalam benakku
mohon Suburkan kembali rasa cinta dihatiku padaMu
hingga membuncah rasa takutku akan kehilangan rindu padaMu
aku takut Engkau mengecualikan aku dari mereka yang mencintaiMu
bimbinglah aku agar senantiasa dekat padaMu
agar lapang jiwa ini menapaki setiap kesempitan jalan yang aku tempuh

24.10.10

Adakah Kesempatan

Kota Bogor, di persimpangan Pasir kuda, ujung barat kota ini. Selembar dua ribu rupiah aku sodorkan ke sopir angkot 14 sembari berkata, "Nuhun mang". "yoo", jawabnya dan berlalu melanjutkan kerjanya.

Seperti biasa dengan tampang lusuh aku menikmati perjalanan kerja hari ini, beban pekerjaan hilang dikikis kekagumanku pada orang2 yang berlalu lalang menjemput rizki2 mereka sedari pagi.

"ah, kemana ya?", sambil merogoh kocek yang memang tak dalam. aku periksa isi tas punggungku di semua kantongnya tidak juga kutemukan yang ku cari. Aku coba ingat semua yang aku kerjakan hari ini, tidak juga aku temui ingatan pernah memindahkannya hingga sampai pada kesimpulanku, dompeku memang hilang hari ini. hiks, meskipun kaget tapi ya sudahlah mungkin sudah milik yang menjadi penemunya.

[ Slank ]

sigap jari2 ini mengirimkan sms lebay, 'ass. a' tolong jemput di persimpangan pasir kuda, ga ada ongkos nih' Send message. hehehe ini cara jitu membuat orang rumah khawatir, hanya boleh dilakukan waktu darurat doank.

Nongkrong di trotoar itu ga nyaman ternyata, pikiranku kabur melihat beragam manusia dengan berbagai polahnya ditambah lagi menunggu itu ga enak dulur.

Mataku menangkap kekontrasan yang tajam, aku ingin menghajar mukaku untuk ketidakwarasanku atas anugrahNya yang luar biasa padaku. Anak kecil itu, Rian namanya seumur dengan adik kecilku di rumah, 8 tahun kira-kira. Tanpa alas kaki, menggendong karung kotor mengumpulkan cup air mineral dan botol2 minuman ringan, tanpa sedikit pun ragu dia memunguti cup di sekitar anak sekolah yang sedang berkumpul menunggu angkot langganan mereka. "di mana aku seumur itu?", membatin memendam kesal membendung rasa bersalah yang menyeruak ke ubun2 .

Rian tidak memilih menjadi peminta2, pengamen atau semisalnya yang di anggap anak jalanan lebih keren. Aku kaget, saat dia menghampiriku dan tiba2 berkata," punten a, tiasa ngalih sakedik?" ah ternyata dibelakang tempatku duduk di trotoar itu ada botol bekas yang hendak dipungutnya. Rian masih sekolah ternyata, dia kelas 5 SD di parakan pojok Ciomas dekat tamansari katanya.

Semoga Rian akan seberuntung orang-orang sukses itu. Bilakah ada kesempatan untuknya, jadikanlah dia bahagia dan membahagian orang2 yang dicintainya.

Rian tak seberuntung aku yang kehilangan hari ini, tapi Rian mampu memberi apa yang tak pernah aku pinta darinya dari polos ketulusannya.

untukmu catatan ini aku buat, Rian.

18.10.10

Ayat Cinta Membelaiku Mesra ( 1 )

Kurang begitu baik hari ini, tapi lebih beruntung dari orang-orang yang tak seberuntung aku hari ini. Sejak terbangun terlalu pagi tadi, seluruh badanku ngilu seakan memaksa untuk tetap meringkuk dalam kehangatan pelukan selimut sambil mengingat mimpi malam tadi. Semestinya aku bangkit setidaknya mendirikan 2 rakaat saja dipenghujung malam ini, tapi tak kulakukan dan mimpipun berlajut meski berubah jalan cerita.

"Aa bangun, dah siang tuuh", samar kudengar suara adikku dalam mimpi dan mengakhiri cerita mimpi babak keduaku.

"ah silau", gumamku saat cahaya lampu neon kamar menyentuh mataku yang baru saja terbuka. ku pincingkan mata yang perlahan kubuka sambil tak hentinya mengusap muka menunggu semua kesadaranku berkumpul sempurna. Kuraih gorden kamar hanya dengan berguling, karena tepat di samping tempat tidurku. kubuka lebar daun jendela kamar sembari bersila di kasur, dingin pun menyusup masuk dari pergelangan tanganku menyempurnakan kesadaranku pagi ini.

Seperti biasa suara serak pak tua itu, sangat jelas terdengar dari corong langgar belakang rumahku.
"AlhamduliLLah, yang telah membangunkan kami setelah ditidurkan-Nya dan kepada-Nya kami dibangkitkan"
Agak berat memang, pusing kepalaku dan rasa ngilu badan tak cukup menjadi penghalang untuk mencampakan selimut dan sweeter hangat yang kukenakan.
"Ya Allah, jadikan aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikan aku termasuk orang-orang yang bersuci"
Selepas dari langgar, dengan tangan menggigil yang kuselinapkan di dalam kantong koko, kupercepat langkahku. Padahal biasanya aku senang menikmati kesegaran pagi, sambil berlama-lama di luar rumah, namun tidak pagi ini dengan sengatan pusing dikepalaku.

Setelah minum air hangat semampunya, aku balutkan kembali selimut yang telah rapi untuk mengurangi rasa panas dingin yang berusaha memelukku lekat-lekat sejak kemarin siang.

"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"

berulang kali aku membaca ayat ini, yang membuka kesyukuran atas nikmat yang telah dianugrahkan serta balasan pada hari di mana tidak lagi didengar alasan-alasan serta uzur-uzur yang dikemukakan.

"Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)."
"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
meneguhkan kembali komitmen hidup yang sering kali dikelitik keluh kesah akan lelahnya jalan mendaki dan terjal.


17.10.10

Ada Yang Tak Biasa ( Mohonkan yang terbaik )

Cuaca bersahabat pagi ini, tak ada mendung panglima hujan juga panas terik. Matahari hanya menyapa lembut setiap pipi selembut belaian punggung jari.

Bismillahi tawaqaltu AlaLLah La haula walaa Quwwata illa biLLahil aliyil adzim, kulangkahkan kaki menjalani hari ini. Tegur sapa tetangga dan seringai senyumku dan mereka membuka keakraban pagi ini.

"Mampir dulu sini mas Herman, sarapan dulu", sapa bu Haji yang berjualan di depan sekolah baru dekat rumahku.
"Oh iya bu, sudah. terima kasih", jawaban klasikku karena memang kalau sedang tak puasa mama selalu menyediakan sarapan untukku.
"Yo bo' duduk dulu tooh di sini, langsung brangkat waee", mas ebit menyambut jawabanku.
"Iya mas, matur nuwun. sudah siang mas. Marii", aku menundukan sedikit kepala sambil tersenyum menyiratkan pamit seperti biasanya.

Menarik nafas dalam-dalam sambil berjalan kaki hingga ke tepi jalan raya menjadi kebiasaan baruku setahunan ini karena sebelumnya aku sangat jarang berjalan kaki, aku jadikan kesempatan ini sebagai pengganti olah raga. aku rasa cukup 200 meter dari rumah untuk mendapatkan udara segar setiap pagi.

Tak harus menunggu, sopir angkot pun menyapaku dengan gaya khasnya. "dekadeka", tawarnya singkat berisi, sambil mengacungkan jari ke arah depan mobilnya. Aku pun tersenyum menganggukan kepala dan mempercepat jalan santaiku.

[on the way | aneh-aneh deeh ]

[at work | ada yang tak biasa ]

.....berasa ada yang ganjil, tapi apaa ya?

Bismillahi,Allahumma shali wasalim ala sayidina Muhammad SAW.

Yaa Rabb,aku hambamu yang lemahJikalah ada terbesit keinginanku yang berhujung kerusakan,

Pupuskanlah setiap terlintas dalam benakku.

Jikalah aku menyakiti seseorang yang aku tak tahu,

Ampunkan aku, berikan seseorang itu kelegaan dan kebeningan hati menerima kekhilafanku sebagai insan.

Dan jikalah ada keinginannya yang baik baginya terbaik dariMu,

Aku memohon kabulkanlah pintanya.

Sedang hatiku bergemuruh yaa Rabbi,kumohonkan reda kegelisahan ini yang mulai larut dalam perjalananku.

Tetaplah jadikan malu sebagai selimut imanku.

Dekatkan aku dengan orang-orang yang senantiasa dekat denganMu.

Jadikan kami saling menjaga dan menyayangi karenaMu

Engkau Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hambaMu...

[ aku pun terlelap dalam anugrah mimipiMu ]

Liburan tak bersahabat

Ingat masa lalu, menjelang libur sekolah, Ibu Guru Bahasa yang jelita itu selalu berpesan,"Kalian akan menikmati hari libur yang panjang. Pergunakanlah kesempatan itu untuk menulis karangan, yang sekaligus menjadi PR bagi kalian. Tiga tema yang ibu pilihkan: (1) Berlibur di desa, (2) Berkungjung ke rumah nenek, dan (3) Berdarmawisata."

Tema yang sepertinya sudah menjadi ketetapn turun-temurun. Tapi tahukah Ibu Guru yang jelita bahwa ketiga tema sederhana yang ibu pilihkan itu, seluruhnya rumit semata?

"Aku lahir di Bogor, masa kecilku kuhabiskan di Bogor. Masa remaja juga di Bogor. Bagaimana mungkin menulis karangan tentang liburan di desa, sedang aku tak memiliki desa?"
Tema kedua, Berkunjung ke Rumah Nenek, adalah juga sama lucunya dengan peristiwa paling lucu di dunia. Sebab yang namanya "rumah nenek", berada persisi sepuluh langkah dari kamarku, terhalang bufet. Di sanalah pintu rumah nenek, alias kamar nenek karena kami memang hidup serumah.

Lalu bagaimana dengan nasib tema ketiga, yakni berdarmawisata?
Siang itu ketika pulang sekolah ayahku sudah menunggu di pintu toko (yang juga pintu rumahku). Dengan kumisnya yang tebal dan senyumnya yang lebar, ia berteriak lantang,"Man!, kamu sudah libur?, kalau begitu, mulai besok kaulah yang sementara jaga toko yaa!"

Nasib

aku belajar dari Agus R. Sarjono.

more than notes

Hai reader'
Menulis ternyata menyenangkan, cuma kadang awalnya memang menyebalkan kalo ide lagi ngeblank.
di sini sy pengen konsisten nulis apa pun yang mudah2an bisa bermafaat.

Meski pun numpang sama blogger.com tapi mudah2an tidak mengurangi sharing manfaatnya..
Sampe ketemu catatan-catatan suhe yang lain..