Ingat masa lalu, menjelang libur sekolah, Ibu Guru Bahasa yang jelita itu selalu berpesan,"Kalian akan menikmati hari libur yang panjang. Pergunakanlah kesempatan itu untuk menulis karangan, yang sekaligus menjadi PR bagi kalian. Tiga tema yang ibu pilihkan: (1) Berlibur di desa, (2) Berkungjung ke rumah nenek, dan (3) Berdarmawisata."
Tema yang sepertinya sudah menjadi ketetapn turun-temurun. Tapi tahukah Ibu Guru yang jelita bahwa ketiga tema sederhana yang ibu pilihkan itu, seluruhnya rumit semata?
"Aku lahir di Bogor, masa kecilku kuhabiskan di Bogor. Masa remaja juga di Bogor. Bagaimana mungkin menulis karangan tentang liburan di desa, sedang aku tak memiliki desa?"
Tema kedua, Berkunjung ke Rumah Nenek, adalah juga sama lucunya dengan peristiwa paling lucu di dunia. Sebab yang namanya "rumah nenek", berada persisi sepuluh langkah dari kamarku, terhalang bufet. Di sanalah pintu rumah nenek, alias kamar nenek karena kami memang hidup serumah.
Lalu bagaimana dengan nasib tema ketiga, yakni berdarmawisata?
Siang itu ketika pulang sekolah ayahku sudah menunggu di pintu toko (yang juga pintu rumahku). Dengan kumisnya yang tebal dan senyumnya yang lebar, ia berteriak lantang,"Man!, kamu sudah libur?, kalau begitu, mulai besok kaulah yang sementara jaga toko yaa!"
Nasib
aku belajar dari Agus R. Sarjono.
Tema yang sepertinya sudah menjadi ketetapn turun-temurun. Tapi tahukah Ibu Guru yang jelita bahwa ketiga tema sederhana yang ibu pilihkan itu, seluruhnya rumit semata?
"Aku lahir di Bogor, masa kecilku kuhabiskan di Bogor. Masa remaja juga di Bogor. Bagaimana mungkin menulis karangan tentang liburan di desa, sedang aku tak memiliki desa?"
Tema kedua, Berkunjung ke Rumah Nenek, adalah juga sama lucunya dengan peristiwa paling lucu di dunia. Sebab yang namanya "rumah nenek", berada persisi sepuluh langkah dari kamarku, terhalang bufet. Di sanalah pintu rumah nenek, alias kamar nenek karena kami memang hidup serumah.
Lalu bagaimana dengan nasib tema ketiga, yakni berdarmawisata?
Siang itu ketika pulang sekolah ayahku sudah menunggu di pintu toko (yang juga pintu rumahku). Dengan kumisnya yang tebal dan senyumnya yang lebar, ia berteriak lantang,"Man!, kamu sudah libur?, kalau begitu, mulai besok kaulah yang sementara jaga toko yaa!"
Nasib
aku belajar dari Agus R. Sarjono.
No comments:
Post a Comment
Bagi temen2 yang sudah baca artikel ini, diharapkan bisa meninggalkan komentarnya yaa. semoga kedepan saya bisa jadi lebih baik membagi setiap pengalaman inspiratif.
Terima kasih