Kurang begitu baik hari ini, tapi lebih beruntung dari orang-orang yang tak seberuntung aku hari ini. Sejak terbangun terlalu pagi tadi, seluruh badanku ngilu seakan memaksa untuk tetap meringkuk dalam kehangatan pelukan selimut sambil mengingat mimpi malam tadi. Semestinya aku bangkit setidaknya mendirikan 2 rakaat saja dipenghujung malam ini, tapi tak kulakukan dan mimpipun berlajut meski berubah jalan cerita.
"Aa bangun, dah siang tuuh", samar kudengar suara adikku dalam mimpi dan mengakhiri cerita mimpi babak keduaku.
"ah silau", gumamku saat cahaya lampu neon kamar menyentuh mataku yang baru saja terbuka. ku pincingkan mata yang perlahan kubuka sambil tak hentinya mengusap muka menunggu semua kesadaranku berkumpul sempurna. Kuraih gorden kamar hanya dengan berguling, karena tepat di samping tempat tidurku. kubuka lebar daun jendela kamar sembari bersila di kasur, dingin pun menyusup masuk dari pergelangan tanganku menyempurnakan kesadaranku pagi ini.
Seperti biasa suara serak pak tua itu, sangat jelas terdengar dari corong langgar belakang rumahku.
Setelah minum air hangat semampunya, aku balutkan kembali selimut yang telah rapi untuk mengurangi rasa panas dingin yang berusaha memelukku lekat-lekat sejak kemarin siang.
berulang kali aku membaca ayat ini, yang membuka kesyukuran atas nikmat yang telah dianugrahkan serta balasan pada hari di mana tidak lagi didengar alasan-alasan serta uzur-uzur yang dikemukakan.
"Aa bangun, dah siang tuuh", samar kudengar suara adikku dalam mimpi dan mengakhiri cerita mimpi babak keduaku.
"ah silau", gumamku saat cahaya lampu neon kamar menyentuh mataku yang baru saja terbuka. ku pincingkan mata yang perlahan kubuka sambil tak hentinya mengusap muka menunggu semua kesadaranku berkumpul sempurna. Kuraih gorden kamar hanya dengan berguling, karena tepat di samping tempat tidurku. kubuka lebar daun jendela kamar sembari bersila di kasur, dingin pun menyusup masuk dari pergelangan tanganku menyempurnakan kesadaranku pagi ini.
Seperti biasa suara serak pak tua itu, sangat jelas terdengar dari corong langgar belakang rumahku.
"AlhamduliLLah, yang telah membangunkan kami setelah ditidurkan-Nya dan kepada-Nya kami dibangkitkan"Agak berat memang, pusing kepalaku dan rasa ngilu badan tak cukup menjadi penghalang untuk mencampakan selimut dan sweeter hangat yang kukenakan.
"Ya Allah, jadikan aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikan aku termasuk orang-orang yang bersuci"Selepas dari langgar, dengan tangan menggigil yang kuselinapkan di dalam kantong koko, kupercepat langkahku. Padahal biasanya aku senang menikmati kesegaran pagi, sambil berlama-lama di luar rumah, namun tidak pagi ini dengan sengatan pusing dikepalaku.
Setelah minum air hangat semampunya, aku balutkan kembali selimut yang telah rapi untuk mengurangi rasa panas dingin yang berusaha memelukku lekat-lekat sejak kemarin siang.
"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
berulang kali aku membaca ayat ini, yang membuka kesyukuran atas nikmat yang telah dianugrahkan serta balasan pada hari di mana tidak lagi didengar alasan-alasan serta uzur-uzur yang dikemukakan.
"Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)."meneguhkan kembali komitmen hidup yang sering kali dikelitik keluh kesah akan lelahnya jalan mendaki dan terjal.
"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
eem, ternyata menulis bisa mulai dari cerita keseharian ya?' oke deh aku juga coba..
ReplyDelete"This so simple blog"
yups, seperti yang diajarkan ibu bapak guru dulu disekolah. ktnya kalo nulis yang ngalir aja. tuliskan saja dulu sesuka hati, nanti juga terbiasa. tinggal iseng2 aja belajar cara nulis yang baik. makasih dan berkunjung
ReplyDelete