Seperti biasa dengan tampang lusuh aku menikmati perjalanan kerja hari ini, beban pekerjaan hilang dikikis kekagumanku pada orang2 yang berlalu lalang menjemput rizki2 mereka sedari pagi.
"ah, kemana ya?", sambil merogoh kocek yang memang tak dalam. aku periksa isi tas punggungku di semua kantongnya tidak juga kutemukan yang ku cari. Aku coba ingat semua yang aku kerjakan hari ini, tidak juga aku temui ingatan pernah memindahkannya hingga sampai pada kesimpulanku, dompeku memang hilang hari ini. hiks, meskipun kaget tapi ya sudahlah mungkin sudah milik yang menjadi penemunya.
[ Slank ]
sigap jari2 ini mengirimkan sms lebay, 'ass. a' tolong jemput di persimpangan pasir kuda, ga ada ongkos nih' Send message. hehehe ini cara jitu membuat orang rumah khawatir, hanya boleh dilakukan waktu darurat doank.
Nongkrong di trotoar itu ga nyaman ternyata, pikiranku kabur melihat beragam manusia dengan berbagai polahnya ditambah lagi menunggu itu ga enak dulur.
Mataku menangkap kekontrasan yang tajam, aku ingin menghajar mukaku untuk ketidakwarasanku atas anugrahNya yang luar biasa padaku. Anak kecil itu, Rian namanya seumur dengan adik kecilku di rumah, 8 tahun kira-kira. Tanpa alas kaki, menggendong karung kotor mengumpulkan cup air mineral dan botol2 minuman ringan, tanpa sedikit pun ragu dia memunguti cup di sekitar anak sekolah yang sedang berkumpul menunggu angkot langganan mereka. "di mana aku seumur itu?", membatin memendam kesal membendung rasa bersalah yang menyeruak ke ubun2 .Rian tidak memilih menjadi peminta2, pengamen atau semisalnya yang di anggap anak jalanan lebih keren. Aku kaget, saat dia menghampiriku dan tiba2 berkata," punten a, tiasa ngalih sakedik?" ah ternyata dibelakang tempatku duduk di trotoar itu ada botol bekas yang hendak dipungutnya. Rian masih sekolah ternyata, dia kelas 5 SD di parakan pojok Ciomas dekat tamansari katanya.
Semoga Rian akan seberuntung orang-orang sukses itu. Bilakah ada kesempatan untuknya, jadikanlah dia bahagia dan membahagian orang2 yang dicintainya.
Rian tak seberuntung aku yang kehilangan hari ini, tapi Rian mampu memberi apa yang tak pernah aku pinta darinya dari polos ketulusannya.
untukmu catatan ini aku buat, Rian.
No comments:
Post a Comment
Bagi temen2 yang sudah baca artikel ini, diharapkan bisa meninggalkan komentarnya yaa. semoga kedepan saya bisa jadi lebih baik membagi setiap pengalaman inspiratif.
Terima kasih